Rabu, 27 Oktober 2010

Konsep Dasar Polymorphism dalam Java
Polymorphism adalah salah satu dari tiga kemampuan yang mendasar yang dimiliki oleh OOP, setelah data abstraction dan inheritance.

Polymorphism
Melalui inheritance, kita bisa menciptakan sebuah hirarki obyek, baik simple atau kompleks sekali pun. Bayangkan hirarki kompleks seperti hirarki dunia hewan. Hirarkinya pasti berlapis-lapis, tetapi turunan sedalam apapun tetaplah seekor hewan. Polymorphism memungkinkan untuk menukar obyek dari turunan ke obyek superclass-nya. Katakan:
Animal ani = new Animal(); // variable bertipe Animal
ani = new Lion(); // sekarang bertipe Lion

Setelah baris kedua, memanggil method yang didefenisikan di Animal, akan memanggil implementasi method yang ada di Lion. Konsep OOP ini memungkinkan hasil pemanggilan method berubah/berbeda tergantung ke instance obyek mana dia direferensikan. Deklarasi di atas tidak tidak berlaku sebaliknya :
Lion lion = new Animal(); // tidak valid

Polymorphism menyediakan cara yang berbeda pada pemisahan interface dari implementasinya, untuk memasangkan ulang apa dari bagaimana. Polymorphism memberikan organisasi kode yang lebih baik dan kode menjadi lebih mudah dibaca, juga memberikan suatu kemampuan pada program untuk berkembang secara terus menerus baik pada tahap pengembangan awal ataupun pada saat ingin menambahkan kemampuan-kemampuan yang baru.
Program berikut ini mungkin akan tampak aneh. Mengapa kita secara sengaja melupakan tipe dari sebuah object ? Ini semua dapat terjadi bila kita melakukan upcast, dan menjadikannya kelihatan seperti kalau tune() secara langsung mengambil handle dari Wind sebagai sebuah argumen. Ini semua membuat sesuatu yang mendasar : Kalau kita melakukannya, kita harus menuliskan tune() yang baru untuk setiap Instrument didalam system kita. Anggap saja kita mengikuti alasan ini dan menambahkan instrument Stringed dan Brass.

Minggu, 07 Maret 2010

TUGAS PTI

Oleh : 009.01.325

PENJELASAN SECARA UMUM MENGENAI MONITOR ;

Monitor LCD vs CRT

09-02-08

Mana yang lebih baik CRT atau LCD ? Saat ini banyak produsen monitor yang sudah tidak memproduksi monitor tipe CRT, kenyataan di lapangan hampir seluruh paket komputer yang dijual selalu mengincludekan LCD sebagai monitornya. Namun kita tetap mesti mengerti apa perbedaan CRT dan LCD . apa kelebihan dan kekurangannya ? Apabila anda membuka Warnet , mana lebih baik ? Apakah monitor anda cocok untuk Aplikasi anda ? Berikut perbandingannya singkatnya.

CRT Monitor

Keunggulan utama dari monitor CRT adalah color renderingnya. CRT memiliki tingkat contrast dan ketajaman warna yang jauh diatas dibanding LCD. Memang saat ini banyak peningkatan kualitas LCD yang semakin hari semakin meningkat ketajaman warna serta tingkat contrastnya namun CRT masi menang dalam hal ini. Banyak para Graphic Designer yang rela membeli monitor CRT dengan layar besar dimana harganya tentu sangat mahal, hal ini disebabkan karena Design Graphic memerlukan kualitas warna yang tinggi walaupun tidak dipungkiri bahwa CRT memiliki masa hidup dimana kualitas akan menurun seiring masa hidup tube di dalam monitor.

Keunggulan lain adalah CRT memiliki kemampuan perubahan resolusi yang lebih mudah. Ini karena teknologi MultiSync, dengan mengatur sinar electron di dalam tabung , layar bisa secara mudah diturunkan resolusinya tanpa merusak gambar.

Walaupun 2 keunggulan tsb membuat CRT cukup di minati, namun CRT memiliki kejelekan besar juga yaitu ukurannya yang relatif besar dengan berat yang jauh lebih besar dibanding LCD. Perbandingan berat dan ukuran CRT dan LCD bisa mencapai 80%. Selain itu CRT juga memiliki kelemahan dimana memakan power listrik yang besar , energi listrik di butuhkan sinar electron di dalam tube sehingga monitor menhasilkan panas yang lebih dibanding LCD.

LCD Monitor

Keunggulan utama dari LCD adalah ukuran dan beratnya. Seperti yang di jelaskan sebelumnya, ukuran dan berat LCD bisa lebih kecil atau ringan sampai 80% dibanding CRT dan ini memungkinkan anda menggunakan layar besar tanpa kesulitan.

Selain itu LCD juga lebih aman untuk mata dimana jika dibanding CRT yang menggunakan tabung cahaya dapat menyebabkan ketegangan dan kelelahan pada mata pengguna.

Dibalik keunggulannya, LCD memiliki kelemahan dimana memiliki statik resolusi , Tampilan LCD hanya bisa menampilkan jumlah pixel sesuai dengan kemampuannya tidak bisa lebih dan kurang.
Video menjadi salah satu problem utama dalam LCD dimana memiliki respon yang lebih lambat dibanding CRT. Walaupun sudah banyak pengembangan teknologi LCD, terkadang beberapa produk masi mengalami masalah yang sama. Tentu saja pembeli harus berhati hati dalam memilih produk monitor LCD.

Walaupun mempunyai perbedaan dan kelebihan serta kekurangan masing masing, LCD tetap menjadi pilihan utama saat ini. Dimana listrik memiliki peranan penting dalam pemilihan produk LCD. Walaupun secara harga LCD jauh lebih mahal dibanding CRT , pemakaian jangka panjang dapat membuat CRT bisa lebih mahal karena penggunaan listrik anda tentu lebih banyak. Kasarnya, mau investasi untuk beli LCD atau mau investasi bayar listrik mahal ke PLN ?

Source : berbagai sumber

Monitor LCD Wide – berbagai kelebihan dibanding Monitor CRT

Belakangan ini, setiap kali ada pengadaan barang di kantor, terutama produk komputer, saya selalu mengusulkan untuk menggunakan monitor LCD wide. Entah kenapa, sejak pertama kali saya menggunakan LCD monitor wide, seakan-akan menjadi kikuk dan aneh kalau menggunakan monitor non-wide, apalagi monitor CRT.

Saya bukan bermaksud mendiskriminasi monitor non-wide atau bahkan monitor CRT. Setelah lama menggunakan monitor LCD wide, saya rasa manfaat yang diperoleh patut diperjuangkan jika dibandingkan dengan monitor non-wide atau CRT.

Dengan menggunakan monitor LCD wide, proses kerja multi aplikasi akan sangat terbantu, apalagi dengan spesifikasi komputer saat ini yang semakin canggih dan menjalankan beberapa aplikasi sekaligus bukan lagi menjadi persoalan. Bagi yang beban kerja office-nya sangat besar, terutama aplikasi spreadsheet, monitor LCD wide akan sangat menguntungkan karena prosentase scrolling atau menggeser layar pada saat bidang lembar kerja (worksheet) sudah penuh jika menggunakan monitor non-wide bisa diperkecil. Dengan kelegaan ruang kerja pada monitor, saya yakin kinerja kita juga akan semakin tinggi tanpa harus membuang waktu menggeser scrollbar ke samping. Paling-paling, beban otot kita tambah tinggi mengingat kita harus lebih sering melirik ke kanan atau ke kiri dan tidak sampai harus menengokkan kepala (lain persoalan kalau monitor yang digunakan lebih besar dari 21″, ha ha ha). Sebagai gambaran, jika kita menggunakan monitor LCD wide 19″, membuka 2 jendela aplikasi ms. word sekaligus akan memberikan bidang layar seukuran 2 kertas A4 yang yang diletakkan bersebelahan.

monitorlcd

multi-aplikasi menggunakan monitor LCD wide

Kelebihan yang kedua adalah space atau ruang penataan monitor di meja yang jauh lebih leluasa jika menggunakan monitor LCD. Kita tidak lagi dibingungkan saat kita harus meletakkan bahan kerja di meja komputer. Bahkan, dengan menambah beberapa ratus ribu atau mungkin dengan memodifikasi alat, kita bisa meletakkan monitor LCD di tembok.

img_4923-small

penataan ruang yang lega jika menggunakan monitor LCD

Kelebihan ketiga adalah sisi efisiensi energi. Meski sampai sekarang saya kurang begitu jelas berapa tepatnya konsumsi daya monitor LCD, tapi setidaknya monitor LCD 17″ hanya mengkonsumsi listrik sekitar 35-60 watt. Ini tentu jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan monitor CRT 17″ yang mengkonsumsi listrik antara 70 sampai 100 watt. Jika ada 10 komputer yang menggunakan monitor CRT kemudian diganti dengan monitor LCD secara bersamaan, tinggal hitung saja, berarti ada penghematan sekitar 400 watt. Jika ke sepuluh komputer tersebut menyala selama 8 jam sehari, selama 1 bulan penuh, tinggal kalikan saja, berapa angka penghematan yang didapat: 400 x 8 x 30 = 96.000 watt dalam satu bulan!!! Berapa rupiah yang bisa dihemat? Nah.. kalau ini saya tidak begitu tahu perhitungannya.

Kelebihan keempat adalah dari sisi pancaran radiasi layar monitor ke mata. Seperti diketahui, monitor-monitor jaman dulu memancarkan radiasi yang sangat kuat dan jika dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan pada mata seperti mata lelah, mata merah dan bahkan bisa membuat orang yang sebelumnya tidak berkacamata menjadi berkacamata (seperti saya sendiri). Dengan adanya inovasi pada teknologi monitor LCD, pancaran radiasi ini dapat direduksi secara maksimal sehingga mata tidak lagi panas saat bekerja dengan monitor LCD meski dengan pengaturan brightness/contrast yang tinggi.

Di samping itu pula, meski rupiah masih lemah terhadap dolar, monitor LCD wide sudah bisa “dijangkau” jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Sekitar tahun 2004, monitor LCD harganya masih di atas 2.5-3jt, angka 1.7jt hanya bisa memperoleh monitor CRT 17″. Namun, sekarang tidak lagi demikian, dengan dana sekitar 1.7jt monitor LCD wide 17″ sekelas LG atau Samsung sudah bisa dinikmati.

Oleh karena itu, demi penghematan jangka panjang dan kenyamanan kita sendiri, patutlah kiranya jika kita berkorban beberapa ratus dolar untuk membeli monitor LCD dibandingkan dengan monitor CRT… Saya yakin, membeli LCD monitor adalah investasi yang cukup menguntungkan.

http://annisajulianti91.ngeblogs.com/2009/10/18/monitor-lcd-si-ramping-yang-menawan/

KESIMPULANNYA, BAHWA :

keunggulan dan kekurangan monitor

Keunggulan Monitor CRT dibandingkan LCD, antara lain :
- Harganya lebih murah dibandingkan monitor LCD
- Kualitas gambar yang lebih tajam dan cerah dibandingkan monitor LCD
- Mampu menghasilkan resolusi gambar yang lebih tinggi dibandingkan dengan monitor LCD
- Memiliki sudut viewable lebih baik dibandingkan monitor LCD
Sedangkan Kekurangan Monitor CRT dibandingkan LCD, antara lain :

- Menimbulkan efek radiasi yang bisa mengganggu kesehatan.
- Dimensinya menyita ruangan yang cukup besar. Apalagi bila ukurannya makin besar
- Menimbulkan efek kedip (flicker) yang mengganggu mata
- Butuh konsumsi listrik yang lebih tinggi dibandingkan LCD
- Sinyal gambar analog
- Area layarnya tidak optimum karena harus dialokaskan untuk bezel/frame
- bentuknya kurang sedap dilihat dibandingkan dengan monitor LCD.

Keunggulan Monitor LCD dibandingkan Monitor CRT, antara lain :

- Konsumsi listrik rendah
- Tidak menghasilkan radiasi elektromagnet yang mengganggu kesehatan
- Tidak menimbulkan efek kedipan (flicker free)
- Area layarnya optimum karena tidak termakan untuk bezel/frame
- Dimensinya tidak akan menyita ruangan terlalu besar dan ringan untuk dijinjing
- Bentuknya stylish dan enak dilihat
- Sinyal gambar digital

Sedangkan Kekurangan Monitor LCD dibandingkan Monitor CRT, antara lain :

- Harganya lebih mahal dibandingkan dengan monitor CRT
- Kualitas gambar yang dihasilkan belum sebaik monitor CRT
- Resolusi gambar yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan monitor CRT
- Sudut viewable-nya terbatas. Begitu kita mengeset sudut pandang, gambar terlihat akan berubah di mata kita.


Keunggulan Printer DOTMATRIX dibandingkan dengan INKJET/LASER

http://stitna0801244.blogspot.com/2009/03/keunggulan-dan-kekurangan-printer-dot.html

Keunggulan Printer Dot Matrix dibandingkan Inkjet / Laser, antara lain :
- printer ini masih banyak digunakan karena memang terkenal awet.
- pita printer dot-matrix jauh lebih murah dibandingkan dengan toner (tinta) untuk printer jenis inkjet dan laserjet.
- Jenis printer dot-matrix sangatlah bervariasi, ada yang berjenis color dan ada pula yang non-color.
- Untuk printer color, digunakan pita (karbon/ribon) khusus yang mempunyai 4 warna, yaitu hitam, biru, merah dan kuning.
- Dapat mencetak rangkap sekaligus.
- Dapat mencetak ukuran kertas yang lebar.
Kekurangan Printer Dot Matrix dibandingkan Inkjet / Laser, antara lain :
- pencetak yang resolusi cetaknya masih sangat rendah.
- ketika sedang mencetak, printer jenis ini suaranya cenderung keras
- kualitas untuk mencetak gambar kurang baik karena gambar yang tercetak akan terlihat seperti titik-titik yang saling berhubungan.
- Dpi dan Ppm rendah.
- Geraknya sangat lambat.
- Warna yang dihasilkan tidak bervariasi.

INKJET dibandingkan DOTMATRIX dan LASER


Keunggulan Printer Inkjet dibandingkan Dot Matrix dan Laser, antara lain :

- Tinta untuk mencetak dan kualitas untuk mencetak gambar berwarna cukup bagus.
- Menggunakan teknik semprot, maka printer jenis ini sama sekali tidak menimbulkan suara/brisik seperti halnya printer-printer sebelumnya.
- Menggunakan resolusi cetak yang tinggi (minimal 300 dpi/dot per-inchie), maka hasil cetakkan printer jenis ini biasanya lebih bagus apabila dibanding dengan jenis printer sebelumnya, pada khususnya dalam menghasilkan gambar ataupun grafik.
- Dpi dan Ppm lebih tinggi dibandingkan dot matrix.
- Kebih mudah mencetak gambar dan warna.
- Kemampuan mencetak sampai kertas yang lebar dengan kualitas yang baik.
Kekurangan Printer Inkjet dibandingkan Dot Matrix dan Laser, antara lain :
- tidak bisa mencetak secara rangkap pada saat bersamaan.
- biaya operasional lebih mahal.
- waktu mencetak menjadi lebih panjang.

LASER dibandingkan dengan DOTMATRIX dan INKJET

Keunggulan Printer Laser dibandingkan Printer Dot Matrix dan Inkjet, antara lain :
- Daya cetaknya juga cukup banyak bisa mencapai lebih dari 10 lembar per menit.
- Kualitas hasil cetak laser printer pun sangat bagus, sehingga mirip sekali dengan aslinya.
- Hasil cetakan cepat kering.
- Pilihan huruf yang dimiliki juga sangat beragam, demikian pula style ataupun bentuk dari huruf yang bersangkutan
- Printer jenis ini memakai sistem yang hampir sama dengan sistem yang dipakai oleh mesin foto-copy, sehingga hasil cetakkannya jauh lebih rapi jika dibanding dengan printer-printer sebelumnya.
- Dpi dan Ppm sangat tinggi.
- Efisien untuk mencetak hitam putih.
- Kapasitas warna lebih banyak.
Kekurangan Printer Laser dibandingkan Printer Dot Matrix dan Inkjet, antara lain :
- Tetapi harga printer ini cukup mahal.
- Biaya operasional tinggi.
- Tidak dapat digunakan secara terus menerus.

Rabu, 17 Februari 2010


Bangun Dulu Kekuatan Lokal

Abdul Rahman, President Director, Agrakom, melihat bahwa perhatian penerapan teknologi informasi (TI) sebaiknya lebih diprioritaskan untuk dilakukan, khususnya di lingkungan perusahaan-perusahaan nasional. Hal ini, lebih mendukung daya saing menghadapi perusahaan-perusahaan mancanegara. Selain itu, perusahaan-perusahaan TI lokal perlu memberi perhatian untuk penerapan itu, sehingga kekuatan daya saing perusahaan lokal semakin meningkat dan secara langsung akan mendukung kemajuan nasional, terutama kegiatan ekonomi dan bisnis. Menurut dia, kemampuan nasional, dan kemungkinan kolaborasinya dengan pihak luar, sebaiknya difokuskan untuk mengembangkan kompetensi nasional, tentu dengan strategi bisnis dan kebijakan yang kondusif untuk itu. Dalam kesempatan ini eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Agrakom ini dan berikut petikannya.

Foto: Dahlan Rebo Paing
Abdul Rahman, President Director, Agrakom

Bagaimana pendapat Anda mengenai perkembangan TI ke depan?

Kalau dibilang optimis, ya optimis. Bahkan dalam keadaan krisis sekalipun, ketika orang tidak mau investasi di bidang lain, investasi di TI tetap jalan. Tahun 1999, terutama dengan adanya Internet, perkembangannya tetap pesat.

Saya yakin sekarang semua orang, maupun lembaga, perusahaan, pemerintah sudah sadar akan perlunya penerapan TI yang, katakanlah, tepat guna. Tapi, bicara prospek TI di Indonesia saya masih optimis.

Tapi, infrastruktur TI masih lebih banyak bisa dinikmati di kota-kota besar.

Kendala-kendala itu tidak berarti membuat prospek itu tidak ada. Kendala itu kan cuma mempersulit. Kendala utamanya memang masih di infrastruktur, yang belum berkembang sebagaimana seharusnya. Yang dimaksud disini adalah infrastruktur komunikasi. TI sekarang kan benar-benar sudah merupakan penggabungan antara komunikasi dengan kemampuan komputasi. Jadi kalau perkembangan komputasinya cepat tapi telekomunikasinya terhambat, memang akan menjadi masalah.

Tapi semua itu kan cuma jadi hambatan. Memang menggangu, tapi bukan berarti harus tidak berjalan. Kan ada banyak cara untuk mengatasinya. Tidak ada fiber optic misalnya, orang bisa menggunakan wireless. Di desa-desa, orang bisa menggunakan satelit, misalnya dengan VSAT. Kalau bisa disediakan dengan harga terjangkau kan bisa menolong juga. Memang ini bukan yang ideal. Yang ideal, jaringan telekomunikasi bisa tersedia di mana-mana dengan harga murah. Kalau itu tidak ada, TI masih bisa berkembang juga.

Dibandingkan negara-negara Asia keunggulan TI Indonesia itu dimana?

Titik unggul saya tidak melihatnya. Maksudnya begini, yang saya maksud peluang adalah peluang buat Indonesia untuk mengembangkan kemampuan TI. Tapi kalau titik unggul Indonesia, dibandingkan dengan negara lain dalam hal persaingan, memang kita paling buruk. Itu kalau dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, Cina, India. Kalau Jepang atau Korea tidak perlu dibicarakan lagi.

Kalau dalam SDM TI kita belum bisa mengalahkan India. Dalam hal infrastruktur, dibandingkan India mungkin masih menang. Tapi, kalau melihat jangka panjangnya, saya juga tidak yakin. Yang aneh dari Indonesia, yang di luar negeri justru bisa berkembang sangat pesat infrastrukturnya, di sini malah tidak. Ambil contoh cable TV. Meski ini bukan telekomunikasi dalam arti yang konvensional, tapi cable TV bisa dikembangkan jadi alat telekomunikasi juga kan? Di India sekarang sudah ada 40 jutaan rumah yang dilewati cable TV. Di Cina mungkin sekitar 70-80 jutaan. Di Indonesia baru ratusan ribu. Di India harga langganan cable TV cuma sekitar 25 ribu rupiah, di sini paling murah 150 ribu rupiah. Jadi perbedaannya besar sekali. Itu kalau bicara cable TV.

Dari sisi telekomunikasi fixed line, seperti yang disediakan Telkom, mungkin Indonesia masih lebih bagus dibandingkan India, tapi jauh di bawah Cina dan yang lain. Itu dalam hal ketersediaan. Dalam hal harga, kita masih mahal sekali, masih berkali-kali lipat dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Cina, dsb. Infrastruktur pun kita kalah, sedangkan SDM-nya, kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita tidak terlalu kalah, kecuali dibandingkan dengan India. Tapi, kalau untuk memenuhi pengembangan TI di negara kita saja, SDM yang kita miliki cukup mampu.

Bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan itu?

Saya bicara dari sisi pandang perusahaan. Jika dalam rangka bersaing dengan perusahaan luar, itu sulit. Mungkin bisa, tetapi kemampuannya terbatas. Tapi ada juga yang melakukannya, seperti Sigma dengan Bali Camp-nya. Tetapi, Indonesia susah menjadi supplier TI besar, karena yang kita andalkan cuma upah buruhnya saja yang rendah. Untuk pengembangan software rasanya masih jauh. Tapi kalau untuk kebutuhan lokal, menurut saya perusahaan-perusahaan lokal itu memiliki keunggulan dibandingkan dengan perusahaan dari luar karena kita terbiasa dengan kendala-kendala di sini, terutama dalam hal (infrastruktur) telekomunikasi seperti yang dikatakan tadi.

Kita tahu misalnya untuk mengerjakan suatu proyek, bagaimana membuat sistem untuk proyek tersebut dengan memanfaatkan saluran telekomunikasi yang ada. Kalau konsultan dari luar, belum tentu mereka memahami kondisi itu, terutama telekomunikasinya sebaik apa. Untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mengembangkan IT system saya kira perusahaan-perusahaan Indonesia memiliki keunggulan besar. Harusnya tidak perlu kalah dengan perusahaan-perusahaan asing yang mencoba menawarkan jasanya ke sini.

Yang perlu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di sini adalah jangan sampai ketinggalan dalam menyerap teknologi-teknologi baru. TI ini kan berkembangnya cepat sekali. Asal kita bisa mengikuti perkembangannya, rasanya kita tidak perlu khawatir kalah bersaing. Jadi dengan kedua faktor tersebut, yaitu tidak ketinggalan teknologi dan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi di Indonesia, seharusnya kita bisa mengerjakan sendiri proyek-proyek TI di sini.

Bisakah vendor-vendor lokal membawa Indonesia bersaing di pasar internasional?

Menurut saya sekarang ini memang terlalu banyak jumlah perusahaan TI yang bersaing di Indonesia. Itu ada bagusnya. Bagusnya buat konsumen, yaitu yang memerlukan jasa TI bisa punya banyak pilihan, sehingga harganya bisa lebih kompetitif. Hanya saja, kadang-kadang ini membuat kualitas menjadi tidak terjamin. Banyak sekali proyek-proyek TI yang gagal karena diberikan ke perusahaan yang kurang mampu, output-nya tidak seperti yang diharapkan. Belum lagi proyek yang sifatnya penunjukan langsung, yang bisa menimbulkan kolusi sehingga lebih memperparah keadaan.

Tetapi kalau ditanyakan, apakah perlu ada penggabungan-penggabungan semacam itu, idealnya kalau terjadi, itu bagus. Kalau perusahaan-perusahaan di sini memiliki kesadaran melakukan konsolidasi antar mereka, sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit namun lebih kuat, itu bisa membantu. Tapi saya kok tidak yakin itu bisa dilakukan.

Apakah harus ada yang memulainya?

Saya rasa tidak. Malahan sekarang perusahaan-perusahaan besar dipecah, atau orang keluar dari perusahaan tertentu untuk kemudian mendirikan perusahaan baru lagi. Semua perusahaan yang basisnya lebih di SDM seperti TI, biro iklan, lawyer, dsb jarang sekali yang mau gabung menjadi besar. Seperti orang-orang di law firm, sampai pada tingkatan tertentu bisa saja mereka keluar dan membentuk firma baru. TI pun juga demikian.

Terkait dengan infrastruktur telekomunikasi, inisiatif apa yang diperlukan?

Selain tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi baru, kalau bisa terus menyadarkan pemerintah tentang perlunya infrastruktur itu dibangun lebih baik. Sebenarnya, tidak ada alasan infrastruktur Indonesia ketinggalan. Kalaupun itu terjadi, faktor utamanya karena regulasi. Kalau regulasinya diubah, itu baru bisa. Contohnya TV kabel, kenapa di sini susah karena izinnya saja tidak mudah diperoleh. Di India boleh ambil banyak sekali. Operator-operator kecil di kota-kota kecil bisa membangun untuk beberapa ribu rumah, sehingga cepat sekali berkembang.

Sedang di sini kita tidak boleh membangun begitu saja seperti itu. Sekarang kan yang ada hanya Telkomvision, kemudian Kabelvision dan Indosat (Indosat Mega Media). Kemudian cara memandang bisnisnya pun salah. Menurut saya ada semacam kesalahan pemilihan teknologi dan strategi. Mereka memilih kabel setaraf hi-end yang langsung bisa pay-per-view, bisa Internet, akhirnya ya jadi mahal. Kalau India kan tidak begitu, pokoknya nyambung dulu. Di Cina pun mula-mulanya seperti itu, baru kemudian ditingkatkan.

"Lebih baik perusahaan - perusahaan TI Indonesia itu lebih fokus dalam membantu perusahaan- perusahaan
Indonesia, bukannya bersaing menjual produk atau jasa TI ke luar negeri. Menurut saya bisa saja, tetapi sangat terbatas."

Itu untuk kabel. Untuk fixed line pun juga begitu. Selama ini kan yang ada hanya Telkom, tidak ada yang lain. Telkom agak khawatir untuk menjual atau menyewakan kapasitas kabelnya, karena dia takut nanti kabel yang dia sewakan digunakan juga untuk menyaingi bisnis inti dia, yaitu suara, misalnya dengan VoIP. Kan bisa saja, karena ISP-ISP sekarang ada yang melayani VoIP. Nanti kalau dia menyewakan dengan harga murah, orang pada menyewa untuk kemudian digunakan menggerogoti bisnis VoIP-nya sendiri.

Menurut saya, harus ada persaingan yang lebih keras terhadap Telkom di sini. Itu pun susah. Meski sekarang sudah dibebaskan, perlu berapa tahun munculnya perusahaan telekomunikasi yang bisa menyaingi Telkom. Seharusnya pemerintah bisa mengatur agar Telkom bisa menjual kapasitasnya dengan harga murah. Sekarang saja tarif suara diatur pemerintah, Telkom tidak bisa menaikkan harga seenaknya sendiri. Harusnya untuk data, juga begitu. Tarif leased line, ISDN, ADSL sebaiknya pemerintah juga ikut menentukan.

Harusnya kalangan industri di sini bisa mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung perkembangan infrastruktur tadi. Sekarang kan kelihatan, di seluler itu relatif lebih ada persaingan. Pemainnya saja cukup banyak, kemudian masuk lagi CDMA. Sekarang tarif seluler Indonesia tergolong lebih murah dibandingkan dengan luar negeri. Kalau telepon fixed tergolong paling mahal. Dengan adanya Telkom Flexi, bisa lebih murah lagi. Harusnya hal yang sama juga dilakukan di TI.

Memang sebaiknya ada Telkom-Telkom baru?

Idealnya begitu. Tapi sekarang kan nggak boleh. Sekarang yang berhak untuk investasi di data kan dibatasi, tidak bisa seenaknya orang bikin. Sementara di Singapura itu sudah boleh. Kalau dulu itu masih dimonopoli oleh SingTel.

Kompetensi apa yang semestinya dikembangkan di Indonesia?

Kalau kita ingin bersaing di bisnis TI, menurut saya berat sekali. Kalau itu dijadikan goal-nya, saya kira kita mengambil sasaran yang terlalu jauh. Yang paling penting adalah berupaya agar perusahaan-perusahaan di Indonesia itu tidak ketinggalan dalam penerapan TI dibandingkan dengan luar negeri, sehingga kinerja ekonomi kita tidak terganggu.

Maksudnya begini, kalau perusahaan-perusahaan Indonesia lambat dalam penerapan TI dibandingkan perusahaan sejenis di luar negeri, katakanlah perusahaan tekstil di Indonesia dengan di Vietnam, nanti semakin lama perusahaan tekstil Indonesia akan semakin tertinggal dan berkurang keunggulan kompetitifnya.

Bagi buyer tekstil, kemampuan TI semakin lama semakin penting. Mungkin maunya antara sistem mereka dengan supplier itu terhubung dengan baik dan aman. Kalau perusahaan tekstil Indonesia tidak bisa begitu, sementara perusahaan tekstil Cina bisa, kan sulit untuk bersaing. Yang paling penting bagi kita supaya perusahaan-perusahaan Indonesia tidak tertinggal dalam pemanfaatan TI. Jadi, lebih baik perusahaan-perusahaan TI Indonesia itu lebih fokus dalam membantu perusahaan-perusahaan Indonesia, bukannya bersaing menjual produk atau jasa TI ke luar negeri. Menurut saya bisa saja, tetapi sangat terbatas.

Perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki kemampuan di bidang itu silahkan jalan terus, seperti Sigma, atau Jatis. Tapi kalau kemudian perusahaan-perusahaan lain berusaha untuk meniru, saya rasa agak berat.

Konsentrasinya di mana, hardware atau software?

Kalau hardware itu susah bagi Indonesia, kecuali jika kita menjadi perakit saja. Sekarang mungkin Taiwan yang nomor satu, sebagian besar hardware komputer berasal dari sana. Taiwan untuk perakitannya, tetapi untuk komponennya seperti semiconductor itu dari Jepang, Korea atau Amerika. Mungkin kita akan mendapatkan seperti itu, sebagai perakit, tetapi bukan perusahaan Indonesia, kemungkinan asing.

Kalau software, misalnya package software, itu jelas miliknya Amerika. Mungkin paling penting adalah pengembangan software untuk sistem. Kemampuan itu yang seharusnya terus dikembangkan. Bagaimana kita bisa menelaah suatu kebutuhan, kemudian merencanakan solusinya, lalu implementasinya. Saya kira, sekarang bisnis TI yang terbesar dilakukan perusahaan-perusahaan Indonesia ada di situ. Seperti Sigma, kan implementasinya lebih banyak untuk perbankan.

Agrakom sendiri bagaimana perkembangannya?

Pertumbuhannya cukup baik. Walaupun kompetisinya ketat, sementara ekonomi Indonesia tidak sehat, pertumbuhan kami tetap bagus. Dari sisi pekerjaan atau proyek baru selalu ada, dan nilai per proyeknya semakin besar, jumlahnya juga terus bertambah.

Kalau yang disediakan Agrakom kan lebih pada membuat sistem untuk mendayagunakan TI yang sudah dimiliki perusahaan. Banyak perusahaan sudah memiliki berbagai sistem, misalnya untuk purchasing. Yang dilakukan Agrakom adalah membuat sistem yang sudah ada ini supaya bisa diakses dari luar, dengan membuatkan interface-nya ke Web, sehingga mitra bisnis bisa mengakses, begitu juga supplier. Sedang kebutuhan investasi untuk hardware atau software baru itu hampir tidak ada. Kita tinggal menambahkan di atasnya.

Dibandingkan perusahaan luar negeri, bagaimana posisi Agrakom?

Dalam hal teknologinya kita sebanding. Mungkin skala pasarnya mereka memang lebih besar. Kalau untuk masuk pasar luar negeri masih berat, jadi Agrakom lebih banyak untuk skala lokal saja. Kan saya ada pilihan-pilihan bisnis. Pilihan saya, kalau untuk IT services lebih baik lokal, tidak perlu dikembangkan untuk mencari market di luar Indonesia. • rf/aa




© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.